BENGKULU UTARA (6 Juni 2026) – Dalam rangkaian kegiatan program penguatan gizi di Kabupaten Bengkulu Utara, Tim Iney Poltekkes Kemenkes Bengkulu menggelar Pendampingan Terpadu Intervensi Spesifik pada Sabtu (6/6). Kegiatan kali ini dipusatkan di Posyandu Mutiara Putih, Desa Batu Layang, yang berada di bawah wilayah kerja Puskesmas Hulu Palik.
Pendampingan terpadu ini dihadiri oleh bidan desa, lima orang kader Posyandu Mutiara Putih, ibu balita, serta tim interprofesi dari Puskesmas Hulu Palik yang meliputi petugas Gizi, KIA (Ibu dan Anak), Promkes, Imunisasi, hingga kesehatan lansia.
Berdasarkan pencatatan digital pada aplikasi SIGIZI KESGA Triwulan I tahun 2026, cakupan praktik pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) anak usia 6–23 bulan di wilayah ini sebenarnya cukup tinggi, yakni mencapai 83,3%. Namun, dari jumlah tersebut, baru 60% yang dikategorikan memiliki kualitas MP-ASI yang baik.
Tim Iney mengidentifikasi adanya tantangan perilaku makan pada balita. Dalam pemantauan asupan 24 jam, ditemukan bahwa masih ada anak yang menu makannya kurang beragam serta belum mengonsumsi sumber protein hewani penting seperti telur, ikan, dan daging. Merespons hal ini, tim pendamping memberikan edukasi intensif kepada para ibu mengenai pentingnya protein hewani dalam mencegah stunting.
Saat ini, terdapat 5 balita di Desa Batu Layang yang teridentifikasi mengalami masalah gizi. Seluruh balita tersebut telah mendapatkan intervensi berupa Pemberian Makanan Tambahan (PMT) lokal berbasis pangan setempat yang disediakan dan didistribusikan langsung secara aktif oleh para kader posyandu. Tim Iney memberikan penguatan teknis terkait standardisasi siklus menu, pemantauan berat badan (BB), daya terima anak, serta tertib pelaporan digital.
Namun, tim juga menemukan tantangan klinis di lapangan. Salah seorang balita dengan status gizi kurang dilaporkan tidak mengalami kenaikan berat badan yang berarti, meskipun telah mengonsumsi PMT lokal selama 28 hari.
Mengingat kondisi ini memerlukan pemeriksaan medis lebih lanjut untuk melacak adanya penyakit penyerta, petugas kesehatan telah menganjurkan rujukan ke Puskesmas. Kendala saat ini adalah keengganan dari pihak keluarga untuk membawa balita tersebut ke fasilitas kesehatan. Tim Iney bersama pihak Puskesmas dan bidan desa langsung menyusun strategi pendekatan persuasif agar balita tersebut bisa segera ditangani secara medis.
Untuk intervensi pada sasaran Ibu Hamil berupa pemeriksaan kehamilan Antenatal Care (ANC) 6 kali, data menunjukkan bahwa saat ini belum terdapat ibu hamil di wilayah Posyandu Mutiara Putih. Kendati demikian, sistem pemantauan berkala tetap disiagakan oleh bidan desa dan kader posyandu agar setiap ada kehamilan baru dapat langsung terpantau sejak dini.
Melalui pendampingan ini, Tim Iney Poltekkes Kemenkes Bengkulu menegaskan bahwa intervensi stunting tidak hanya sekadar membagikan makanan tambahan, melainkan juga memastikan perubahan perilaku konsumsi di rumah tangga.(MRA)